Oteba,gmitklasiskupangbarat.or.id, –“Kejadiannya terjadi di tanggal 25 Januari jam 4 sore. Istri saya Horiana Kofemnuke buat kopi di dalam rumah. Kemudian terjadi bunyi dari tembok. Istri saya kaget dan beritahukan bahwa ada longsor di sekitar rumah. Pada saat itu saya beritahukan kepada keluarga dan kami keluarkan barang-barang dari dalam rumah.”
Obaja Manil menceritakan kejadian longsor di Oteba Desa Taloitan Kecamatan Nekamese dengan mata berkaca-kaca. Raut kesedihan nampak di wajahnya. Kejadian ini bukan hanya menimpa dirinya dan keluarga, tetapi juga keluarga Oksar Kofemnuke dan Kornalia Bani. Mereka adalah bagian dari anggota jemaat GMIT Elroi Oteba Klasis Kupang Barat.

Kisah longsor dan kerusakan di rumah tempat tinggal ini disampaikan dalam kunjungan Wakil ketua Klasis Kupang Barat Pdt. Netty S. Dubu, Ketua Badan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Klasis Pdt. Sahaya Manafe, Ketua Badan Diakonia Klasis Pdt. Apriani Kana Wadu dan Ketua UPP Pastoral Klasis Pdt. Nurdiana Lauwoe yang berkunjung ke Oteba, Jumat (6/2/2026). Bersama ikut dalam rombongan Pdt. Maryanti S. Umbu Zogara. Pdt. Ester Riwu dan Pdt. Viktor Boru. Rombangan disambut Pdt. Petrus M. Asbanu Pelayan GMIT Elroi Oteba dan para korban longsor. Kemudian dilakukan peninjauan ke lokasi longsor berakhir di pastori GMIT Elroi Oteba.
Pdt. Nur menginformasikan bahwa Klasis Kubar melaksanakan kegiatan penguatan pastoral kepada tiga jemaat (keluarga) yang terdampak bencana tanah longsor sebagai wujud kehadiran dan tanggung jawab gereja dalam mendampingi jemaat yang mengalami situasi sulit akibat bencana. Dalam kunjungan pastoral ini, para pelayan GMIT Klasis Kupang Barat memberikan pendampingan rohani melalui percakapan pastoral dan doa bersama. Pelayanan ini bertujuan untuk menguatkan iman, serta meneguhkan pengharapan keluarga terdampak, di tengah kondisi kehilangan tempat tinggal. Ia berharap melalui kegiatan penguatan pastoral, keluarga yang terdampak dapat merasakan kasih dan pemeliharaan Tuhan yang nyata melalui perhatian dan kebersamaan gereja sebagai perwujudan persekutuan dan pelayanan gereja.
Sementara Wakil Ketua Majelis Klasis Kupang Barat menyampaikan bahwa kegiatan itu adalah salah satu program yang diputuskan dalam persidangan majelis klasis. Badan diakonia dan pastoral hadir untuk memberikan perhatian, dukungan secara psikologis bagi korban bencana dan juga bantuan berupa materi. “Memang kehadiran dan bantuan tidak seberapa tetapi itu merupakan bentuk perhatian bahwa jemaat di Elroi Oteba adalah bagian dari Klasis Kupang Barat. Kami hadir untuk memberikan dukungan, mendengarkan dan juga berbagi. Bahwa mereka menghadapi musibah itu tidak sendiri tetapi ada perhatian dari klasis,” urai Pdt. Netty.

“Kami dari PRB lingkup Klasis Kupang Barat hadir di Elroi Oteba dalam melihat kejadian anggota jemaat yang terdampak longsor pada tanggal 25 Januari. Kehadiran kami sebagai PRB yang berkolaborasi dengan Badan diakonia dan UPP Pastoral untuk melihat kondisi rumah yang terdampak bencana.” ungkap Pdt. Sahaya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa melihat kejadian alam akhir-akhir ini, terutama di wilayah Kecamatan Nekamese hampir sebagian besar mengalami kondisi yang lumayan parah. Struktur tanah di Nekamese yang labil (liat) dan kondisi tanah yang tidak menentu (bergunung). curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya longsor. Mereka melihat secara langsung ketiga rumah yang mengalami longsor. Pada awalnya ketiga rumah korban longsor itu dibangun di daerah yang dianggap aman. Daerah padang yang luas, tetapi sejak tahun 2019 sampai tahun 2021 ketika badai Seroja, menyisakan area longsor yang makin mendekati perumahan. Ketika hujan semakin tinggi di tahun 2026 dan adanya struktur tanah yang mengarah ke bantaran kali. Akhirnya terjadi longsor dan rumah-rumah mengalami patahan struktur dan tidak bisa ditinggali. Mereka mengungsi dan tinggal bersama sanak saudara. Pemerintah Desa Taloitan dan Kabupaten Kupang sudah memberikan bantuan dan merelokasi korban longsor. Mereka dipindahkan ke lokasi baru kurang lebih 500 meter dan tempat yang baru itu aman dari longsor. Pemerintah juga mendata daerah yang rawan longsor dan diminta untuk melakukan relokasi (perpindahan) rumah, diitakutkan akan adanya longsor lagi.
Baginya dengan kehadiran PRB, akan terus melihat kondisi dari tempat-tempat yang mengalami bencana supaya memberikan edukasi sambil memperhatikan daerah-daerah rawan bencana. Berusaha untuk meminimalisir supaya tidak ada korban, baik orang maupun harta benda.
Sementara itu Ketua Majelis Jemaat GMIT Elroi Oteba Pdt. Petrus M. Asbanu merasa lega dan terbantu. Mereka diberi kekuatan iman dan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan atas sepengetahuann Tuhan. Ketiga keluarga terus bersama berbenah dan percaya atas penyertaan Tuhan.
GMIT Klasis Kupang Barat bagi kemuliaan Tuhan.f
Laporan: Pdt. yft hb




