SEJARAH STFT JAKARTA

Jakarta,gmitklasiskupangbarat.or.id, -Berikut ini disajikan sejarah Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta yang dipajang di pelataran kampus.

1934: STFT Jakarta adalah perguruan tinggi tertua di Indonesia. Sekolah ini didirikan pada tanggal 9 Agustus 1934 di Bogor dengan nama Hoogere Theologische School (HTS) dan seluruh dosennya dari Eropa. Rektor yang ditunjuk adalah Dr. M. C. Slotemaker de Bruine. Namun, setelah ditunjuk beliau belum pernah langsung menjabat sebagai rektor di Indonesia. Rektor HTS hok tempore (sementara) yang ditunjuk selagi menunggu Dr. de Bruine ke Indonesia adalah Prof. Dr. Th. Muller-Kruger. Pada tahun 1934 mendengungkan apa yg disebutnya theologia in loco atau soal-soal teologi yang disampaikan oleh gereja pada tempatnya dan saatnya. Teologi diharapkan tidak asing bagi Indonesia dan yang dapat berbuah bagi gereja-gereja di Indonesia.

1954: Ketika Republik Indonesia diproklamasikan, HTS dikembangkan menjadi suatu lembaga pendidikan teologi yang sepenuhnya setara dengan pendidikan universitas. Pada tanggal 27 September 1954 nama HTS diubah dari Sekolah Theologi Tinggi menjadi Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Dan sejak itu, tanggal tersebut diambil menjadi tanggal peringatan berdirinya STT Jakarta.

Pada tahun itu untuk pertama kalinya ijazah SMA dituntut sebagai syarat masuk STT Jakarta. Bahasa Indonesia resmi digunakan menggantikan bahasa Belanda. Sifat Oekumenis sekolah ini menjadi jelas. Jabatan rektor ditangani secara bergiliran oleh dosen-dosen Indonesia. Mahasiswapun berdatangan dari berbagai penjuru tanah air. Sekolah ini diasuh oleh Yayasan Lembaga Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia (YLPTTI). Maksud dan tujuan YLPTTI dan STT Jakarta adalah mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan tinggi teologi di Indonesia sebagai tempat pembinaan teologi dengan mengelola pendidikan teologi untuk melayani gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya di tengah-tengah masyarakat.

1958: Pada tahun 1958 STT Jakarta membuka program studi lanjutannya sendiri dan semenjak tahun 1966 STT Jakarta juga mengembangkan program studi lanjutan South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST), dalam rangka konsorsium sekolah teologi di Asia Tenggara yang cukup berhasil mengalihkan arus studi lanjutan ke kawasan Asia sendiri. Para mahasiswa program studi tersebut diutus oleh gereja ataupun lembaga gerejawi, sehingga sebagian besar kembali melayani di gereja atau bekerja pada lembaga pengutus masing-masing.

1998: Pada 1998 STT Jakarta ikut dalam sejarah reformasi di mana mahasiswanya aktif dalam Forum Kota dan menjadi simpul STT Jakarta. Meskipun jumlahnya sedikit, mahasiswa STT Jakarta terlibat aktif dalam berbagai rapat persiapan dan aksi yang ikut mulai era reformasi. Setelah itu, geralan mahasiswa masih terus mengawal reformasi dalam berbagai aksi damai lainnya.

2003: Sejak era 1980-an, STT Jakarta telah memyadari adanya kebutuhan pendidikan bagi warga gereja yang diawali oleh Pdt. Dirk Roedolf Maitimoe melalui beberapa program kursus. Pada tahun 2003, STT Jakarta mengembangkan program Pusat Pembelajaran Warga Gereja (PPWG). Program ini dimaksudkan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan dan latihan bagi gereja, khususnya bagi warga gereja yang berada di DKI Jakarta dan sekitarnya. Sampai 2024, STFT Jakarta memiliki program-program seperti Kursus Teologi Dasar dan Viveka yang menjadi dasar bagi pembelajaran warga gereja.

2016-sekarang: Sejak tahun 2016 STT Jakarta berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta (STFT Jakarta). Perubahan nama ini sesuai dengan nama alun STFT Jakarta di PDDIKTI yang menunjukkan komitmen terhadap pendidikan tinggi teologi di bawah kemendikbudristek. Sampai 2024, STFT Jakarta berupaya keras untuk mengembangkan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu teologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait, agar dapat berdiri di barisan depan pendidikan teologi di Indonesia.

Hingga akhir 2023, STFT Jakarta telah meluluskan Sarjana Theologi (S.Th) dan Sarjana Sains Teologi (S.Si.(Teol)) sebanyak 2.278 lulusan, Magister Theologi (M.Th), (termasuk program SEAGST) sebanyak 448 lulusan, Magister Divinitas (M.Div), sebanyak 3 lulusan, Magister Ministri (M.Min) sebanyak 196 lulusan, Doktor Teologi (termasuk program SEAGST) sebanyak 127 lulusan dan Doktor Ministri sebanyak 9 lulusan.

GEREJA-GEREJA PENDUKUNG

1. Huria Kristen Batak Protestan

2. Gereja Kalimantan Evangelis

3. Gereja Mahsehi Injili di Minahasa.

4. Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow

5. Gereja Toraja

6. Gereja Protestan Maluku.

7. Gereja Masehi Injili di Timor.

8. Gereja Kristen Sumba.

9. Gereja Injili di Tanah Jawa.

10. Gereja-gereja Kristen Jawa.

11. Gereja Kristen Indonesia.

12. Gereja Kristen Pasundan.

13. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat.

14. Gereja Protestan di Indonesia.

15. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mewakili gereja -gereja anggotanya yang lain.

 

@Studi Banding Pelayan GMIT Klasis Kupang Barat di STFT Jakarta, 15-22 September 2025.

GMIT Klasis Kupang Barat bagi kemuliaan Tuhan.f

 

Editor: Pdt. yft hb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *