Foeneno,gmitklasiskupangbarat.or.id, -Minggu (19/10/2025) dilaksanakan Ibadah Emeritasi Pdt. Irene Tavericos Firmansjah Toelle, S.Th, Perhdapan Pdt. Nining Sonya Lonakoni, S.Th dan Serah Terima Ketua Majelis Jemaat GMIT Betania Foeneno Klasis Kupang Barat. Ibadah dipimpin bersama oleh liturgos para pelayan GMIT rayon 4 Klasis Kupang Barat, pelayan firman Pdt. Petrus Tameno, M.Th Sekretaris bidang Penilaian Kinerja Karyawan GMIT dan pelayan emeritasi dan perhadapan Pdt. Semuel B. Pandie, S.Th Ketua Majelis Sinode GMIT. Ibadah ini bersamaan dengan ibadah bulan keluarga GMIT Minggu ke-3. Tema ibadah yaitu Menjadi Teladan Iman yang didasarkan dari Titus 2:1-10.

Dalam perenungan firman Tuhan Pdt. Petrus Tameno atau yang akrab disapa Pdt. Pet menekankan agar setiap orang hidup kudus dan membentuk karakter dan iman agar dapat menjadi teladan. Rasul Paulus mengatakan pembentukan dijalani melalui, pertama kehidupan sehari-hari yang nampak pada ajaran yang sehat. Hidup yang sesuai Injil Yesus Kristus. Tidak cukup diajarkan dan didengar saja tetapi harus dihidupi. Iman yang sehat akan tampak dalam sikap, dalam hidup dan juga dalam gaya hidup tiap-tiap hari. Orang percaya menjadi surat Kristus yang terbuka. Kedua, peran setiap anggota keluarga. Keluarga adalah basis kehidupan jemaat, karena itu tiap orang melakukan tanggung jawabnya. Dalam keluarga terdapat laki-laki yang tua, perempuan yang tua, perempuan muda, orang muda yang menjalani kehidupan bersama. Ketiga, menjadi teladan di tempat kerja. Ini dikaitkan dengan peran hamba (budak) atau pekerja. Bekerja dengan setia, jujur, tidak hanya untuk menyenangkan atasan saja.
Rasul Paulus menutup nasehat dengan mengatakan supaya memuliakan ajaran Allah yang baik dan benar. Kerja atau melayani dalam keluarga bukan sekedar pamer, bukan untuk pengakuan tetapi untuk memuliakan Tuhan. Menjadi teladan adalah panggilan iman.
Pdt. Pet menyampaikan pesan teks firman Tuhan yaitu pertama sebagai orang percaya mesti menjadi teladan bagi sesama. Teladan dalam kasih yang mengacu pada upaya meniru Tuhan sebagai yang utama dan pusat hidup. Teladan dalam menjaga kemurnian hati yang dimulai dari pikiran positif. Menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan yang nyata. Menjadi teladan dalam kesetiaan. Hidup tidak menyimpang, bertahan dalam iman, pengabdian diri, konsisten dan menjalankan yang dipercayakan dengan tekun. Hanya iman dan kesetiaan yang bisa membuat seseorang dapat dipercaya.
Kedua, tantangan bagi para pelayan (pendeta). Siap menderita tetapi mesti menjadi penyembuh bagi yang terluka. Masuk dalam golongan orang-orang bersalah. Satu tulisan reflektif dalam laporan vikariat yang pernah dibaca yaitu kalau pendetanya muda ia dianggap kurang berpengalaman, tetapi kalau rambutnya sudah uban ia dianggap terlalu tua. Kalau keluarganya besar (banyak anak) dia dianggap beban jemaat, tetapi kalau belum punya istri atau suami atau anak dia dianggap tidak bisa menjadi teladan. Kalau istri atau suaminya terlalu aktif di gereja ia dituduh menonjolkan diri, tetapi bila tidak aktif ia dituduh kurang mendukung pelayanan. Kalau berkhotbah dengan membaca dianggap membosankan, kalau berkhotbah di luar kepala dibilang tidak mempersiapkan diri. Kalau berusaha untuk mengadakan pembaharuan ia dituduh sewenang-wenang, kalau melanjutkan saja yang sudah ada ia dianggap pendeta boneka, son bisa apa-apa, iko sa, iko arus. Kalau khotbah banyak contoh dianggap kurang alkitabiah atau banyak kosongnya, kalau tidak ada contoh dianggap kata-katanya terlalu tinggi. Kalau ia gagal menyenangkan hati orang ia diangap menyakiti hati jemaatnya, tetapi kalau berusaha menyenangkan hati jemaat ia dianggap penjilat. Kalau ia terus terang dalam kebenaran ia dianggap sengaja menyinggung perasaan, tetapi kalau ia tidak terus terang dianggap pengecut. Kalau khotbahnya panjang bisa membuat banyak orang mengantuk tetapi kalau khotbah pendek dianggap pemalas.
Menjadi pelayan dalam jemaat sementara berada dalam proses menata hidup sebagai hamba. Pdt. Irene telah melewati 31 tahun dalam pelayanan dengan menjadi seorang penyembuh walau terluka. Jemaat selalu mengingini pendetanya mesti bijaksana seperti burung hantu, gagah seperti burung rajawali, rendah hati dan tulus seperti burung merpati, bersedia makan apa saja seperti burung kenari dan sebagainya.
Pdt. Nining Lonakoni sebelumnya melayani di Jemaat Tri Tunggal Pasneno. Sementara Pdt. Irene telah menjalani masa pelayanan selama 31 tahun 10 bulan di Klasis SoE, Amanatun Selatan, Amanatun Timur, Lapas Wanita kelas IIB Kupang dan berakhir di Klasis Kupang Barat.
Prosesi emeritasi dan perhadapan pelayan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube GMIT Klasis Kupang Barat.
GMIT Klasis Kupang Barat bagi kemuliaan Tuhan.f
Laporan: Pdt. yft hb




