Khotbah Natal Majelis Klasis Kupang Barat di GMIT Jemaat Oemathonis Noelsinas.
Rabu, 14 Januari 2026
Oleh: Pdt. Felpina Norma Luys Djawa-Ataupah, M.Th (Pelayan GMIT Elim Bolok)
Pembacaan Alkitab: Matius 2:9-12
Tema: “Natal: Penyembahan dan Pelayanan yang Benar”
PENGANTAR
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus, sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bertanya dengan jujur: apa itu pelayanan dan apa itu penyembahan? Apakah pelayanan hanya soal bekerja dan mengurus tugas gerejawi? Dan apakah penyembahan sebatas ibadah, liturgi, dan nyanyian pujian? Apakah keduanya sama, atau justru berbeda? Bisakah kita rajin melayani tetapi kehilangan roh penyembahan, atau tekun beribadah tanpa tergerak melayani?
Dalam tradisi Kristen, pelayanan sering dipahami sebagai apa yang kita lakukan bagi Tuhan, sementara penyembahan sebagai apa yang kita lakukan di hadapan Tuhan. Namun Injil menegaskan bahwa keduanya tidak pernah dipisahkan. Penyembahan selalu mendahului pelayanan dan pelayanan yang sejati selalu lahir dari penyembahan yang benar. Henri Nouwen mengingatkan bahwa pelayanan Kristen bukan pertama-tama soal kesibukan, melainkan buah dari relasi yang hidup dengan Allah; tanpa doa dan keheningan, pelayanan mudah berubah menjadi aktivisme rohani yang melelahkan.
Sejak awal, khususnya Injil Lukas menempatkan kisah Natal dalam suasana penyembahan: Maria memuliakan Allah, para gembala memuji Tuhan, Simeon dan Hana berdoa dengan setia. Dari penyembahan itulah lahir ketaatan dan kesaksian. Yesus sendiri menegaskan hal ini dalam kisah Maria dan Marta, bahwa pelayanan kehilangan arah ketika tidak berakar pada sikap duduk di kaki Tuhan.
Karena itu, Natal mengajak kita kembali ke sumbernya: pelayanan yang benar tidak dimulai dari kesibukan, melainkan dari penyembahan yang benar kepada Kristus. Dari titik inilah kita belajar bersama melalui kisah orang Majus. Dalam Matius 2:9-12, Alkitab tidak langsung menceritakan tentang persembahan orang Majus, tetapi lebih dahulu tentang sujud dan penyembahan. Ini menegaskan satu kebenaran penting: Pelayanan yang benar selalu dimulai dari penyembahan yang benar.
Siapa Orang Majus? Orang Majus adalah orang-orang dari Timur, kemungkinan besar cendekiawan dan ahli perbintangan dari Persia dan Babilonia. Mereka bukan bagian dari umat pilihan Israel, tidak mengenal Taurat dan tidak memiliki jabatan religius. Namun mereka peka membaca tanda-tanda Allah dalam ciptaan. Matius dengan sengaja menampilkan orang Majus untuk menunjukkan bahwa Allah berkenan disembah oleh siapa saja yang datang dengan hati yang sungguh. Sebaliknya, mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan dan agama seperti Herodes dan para ahli Taurat justru tidak menyembah. Dalam konteks inilah, penyembahan orang Majus menjadi teladan bagi gereja dan para pelayan di sepanjang zaman.
POKOK-POKOK KHOTBAH
- Penyembahan yang Benar Berawal dari Pencarian akan Kristus (ay. 9)
“Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang telah mereka lihat di timur itu mendahului mereka, hingga akhirnya berhenti di atas tempat Anak itu berada.”
Ayat ini menegaskan bahwa orang Majus tidak berhenti pada informasi, tetapi melanjutkan perjalanan mereka. Mereka telah bertemu Herodes, mendengar penjelasan para ahli Taurat, namun mereka tidak puas hanya dengan pengetahuan teologis. Mereka tetap berjalan, mengikuti bintang, sampai berjumpa langsung dengan Kristus. Bintang “mendahului mereka” menandakan bahwa Allah sendiri yang memimpin pencarian itu. Penyembahan tidak dimulai dari inisiatif manusia semata, melainkan dari respons terhadap tuntunan Allah. Orang Majus mencari bukan karena rasa ingin tahu, tetapi karena kerinduan iman.
Orang Majus tidak memulai perjalanan mereka dengan penyembahan, tetapi dengan pencarian. Mereka melihat sebuah tanda di langit, lalu berani meninggalkan zona aman, menempuh perjalanan panjang, dan melangkah ke tempat yang tidak mereka kenal. Mereka tidak tahu persis di mana Sang Raja itu berada, namun mereka percaya bahwa Allah yang memberi tanda juga akan menuntun langkah mereka.
Di sinilah kita belajar bahwa penyembahan yang benar tidak lahir dari rutinitas, tetapi dari hati yang terus mencari Tuhan. Banyak orang tahu tentang Tuhan, tetapi tidak semua orang mau berjalan untuk bertemu dengan-Nya. Banyak orang sibuk dengan urusan agama, tetapi tidak semua orang rindu akan Kristus.
Orang Majus mengajarkan kepada kita bahwa mencari Tuhan berarti berani melangkah, sekalipun jalannya tidak selalu jelas. Pencarian mereka bukanlah pencarian yang gaduh, melainkan pencarian yang taat. Mereka mengikuti bintang itu langkah demi langkah, sampai akhirnya berhenti di tempat Anak itu berada.
Bagi kita para pelayan Tuhan, kisah ini menjadi cermin yang jujur. Apakah pelayanan kita masih lahir dari pencarian akan Kristus, ataukah kita sudah berhenti mencari karena merasa sudah tahu? Apakah kita masih peka mengikuti tuntunan Tuhan, ataukah kita lebih mengandalkan pengalaman, jabatan, dan kebiasaan lama?
Agustinus pernah berkata bahwa hati manusia akan selalu gelisah sampai beristirahat di dalam Tuhan. Kegelisahan rohani itulah yang mendorong orang Majus untuk terus berjalan. Dan kegelisahan yang sama seharusnya menjaga gereja agar tidak puas diri, tidak berhenti, dan tidak kehilangan arah. Karena itu gereja juga harus gelisah, karena dengan kegelisahan gereja terus bernah untuk mencari dan menemukan kehendak Tuhan dalam setiap pelayanan. Dietrich Bonhoeffer melihat kegelisahan gereja sebagai panggilan untuk taat secara nyata. Gereja yang tidak gelisah akan mudah berkompromi dengan kenyamanan, kuasa, dan ketidakadilan.
Penyembahan yang sejati, saudara-saudari, tidak dimulai ketika kita sudah sampai, tetapi ketika kita bersedia berjalan. Selama kita masih mencari Kristus dengan rendah hati, selama kita masih mau dipimpin oleh terang-Nya, di situlah penyembahan tetap hidup. Dari pencarian itulah, kita akan tiba pada perjumpaan yang mengubah hidup.
- Penyembahan yang Benar Melahirkan Sukacita yang Sejati (ay. 10)
Ungkapan yang dipakai Matius di sini sangat kuat. Dalam bahasa Yunani tertulis ἐχάρησαν χαρὰν μεγάλην σφόδρα ( ekhárēsan kharàn me-gá-lēn sfódra) secara harfiah, “mereka bersukacita dengan sukacita yang besar, sangat.” Pengulangan kata sukacita dan penambahan kata sangat menunjukkan bahwa yang dialami orang Majus bukan kegembiraan biasa, melainkan sukacita yang meluap dan mendalam.
Secara tekstual, sukacita ini muncul bukan ketika perjalanan dimulai, bukan pula saat mereka memperoleh informasi dari Herodes atau para ahli Taurat, tetapi ketika bintang itu kembali tampak dan menuntun mereka lebih dekat kepada Kristus. Ini menegaskan bahwa sukacita sejati tidak lahir dari kepastian rencana manusia, melainkan dari kepastian akan tuntunan Allah dan kedekatan dengan kehadiran-Nya.
Bintang yang kembali terlihat menjadi tanda bahwa Allah tidak meninggalkan pencarian mereka. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan ancaman termasuk intrik Herodes Allah tetap setia menuntun. Karena itu, sukacita orang Majus adalah sukacita iman: sukacita karena Allah hadir dan bekerja, bahkan sebelum mereka melihat Anak itu secara langsung. Sukacita ini bersifat eskatologis, yakni sukacita yang mengantisipasi perjumpaan dengan Sang Mesias. Mereka belum menyembah, belum mempersembahkan apa pun, tetapi hati mereka sudah dipenuhi sukacita karena janji Allah semakin nyata di depan mata.
Tafsiran ini menolong kita menyadari bahwa sukacita pelayanan tidak menunggu semua persoalan selesai atau semua target tercapai. Sukacita hadir ketika kita kembali menyadari bahwa Tuhan masih menuntun perjalanan kita. Ketika arah pelayanan jelas karena Kristus menjadi pusat, maka di tengah keterbatasan sekalipun, sukacita tetap mungkin dialami. Henri Nouwen mengingatkan: “Pelayanan yang tidak berakar pada doa akan cepat kehilangan sukacita.” Dengan demikian, penyembahan yang benar melahirkan sukacita yang sejati sukacita karena Tuhan hadir, menuntun, dan setia menyertai perjalanan iman dan pelayanan kita.
- Penyembahan yang Benar Menempatkan Kristus sebagai Pusat (ay. 11a)
“Mereka masuk ke rumah itu dan melihat Anak itu… lalu sujud menyembah Dia.”
Teks ini dengan jelas menegaskan siapa yang menjadi pusat penyembahan orang Majus. Matius dengan sengaja menyebutkan bahwa mereka melihat Anak itu bersama Maria, namun tindakan mereka bukan tertuju kepada Maria, melainkan kepada Anak itu. Kata kerja “sujud menyembah” (προσεκύνησαν – prosekynēsan) menunjuk pada sikap penyerahan total, penghormatan yang hanya layak diberikan kepada Allah atau Raja sejati.
Menariknya, penyembahan ini terjadi di sebuah rumah, bukan di istana, bukan pula di Bait Allah. Ini menunjukkan bahwa pusat penyembahan bukan ditentukan oleh tempat, suasana, atau kemegahan liturgi, melainkan oleh kehadiran Kristus. Di ruang yang sederhana, Kristus tetap layak disembah.
Orang Majus juga tidak menyembah bintang tanda yang menuntun mereka melainkan Kristus yang ditunjuk oleh tanda itu. Dengan demikian, Matius menegaskan bahwa segala tanda rohani hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, bukan tujuan akhir penyembahan.
Penyembahan yang benar selalu bersifat Kristosentris. Kristus bukan sekadar bagian dari ibadah, melainkan pusat dari seluruh kehidupan gereja. Dietrich Bonhoeffer dengan tegas menyatakan: “Hanya Kristus yang layak menjadi pusat gereja; ketika yang lain mengambil tempat-Nya, gereja kehilangan jiwanya.” Bonhoeffer mengingatkan bahwa gereja dapat tetap aktif, liturgis, bahkan ramai, tetapi kehilangan jiwa ketika Kristus tidak lagi menjadi pusat. Karl Barth menegaskan bahwa gereja hanya memiliki satu tugas utama: bersaksi tentang Kristus. Ketika gereja berbicara lebih banyak tentang dirinya sendiri daripada tentang Kristus, maka gereja sedang menyimpang dari panggilannya.
Dengan demikian Penyembahan menjadi tidak benar ketika: pelayan lebih ditonjolkan daripada Kristus, liturgi lebih diperhatikan daripada maknanya, keberhasilan pelayanan lebih dibanggakan daripada ketaatan kepada Tuhan Penyembahan yang benar mengarahkan gereja untuk: memuliakan Kristus, bukan nama atau kelompok tertentu, melayani dengan rendah hati, bukan mencari pengakuan, menempatkan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi atau institusi.
Dalam konteks pelayanan, ayat ini mengajak kita untuk bertanya dengan jujur:Siapa yang sungguh-sungguh kita pusatkan dalam ibadah dan pelayanan kita?Apakah Kristus, ataukah agenda, tradisi, dan ego kita sendiri? Penyembahan yang benar bukan soal seberapa indah ibadah kita, tetapi siapa yang kita sembah. Orang Majus mengingatkan gereja sepanjang zaman bahwa pusat penyembahan bukan manusia, bukan tanda, bukan pengalaman—melainkan Kristus, Sang Raja yang lahir bagi dunia.
Ketika Kristus menjadi pusat, pelayanan menemukan arah, ibadah menemukan makna, dan gereja menemukan kembali jiwanya.
- Pelayanan yang Benar Mengalir dari Penyembahan yang Benar (ay. 11–12)
“Lalu mereka mempersembahkan kepada-Nya persembahan-persembahan, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain.”
Setelah orang Majus sujud menyembah, Injil Matius mencatat dua tindakan penting: memberi persembahan dan taat pada peringatan Allah. Kedua hal ini menunjukkan bahwa pelayanan sejati tidak berhenti pada momen ibadah, tetapi berlanjut dalam seluruh arah hidup.
Persembahan emas, kemenyan dan mur bukan sekadar pemberian simbolis, melainkan ekspresi total dari penyembahan. Emas mengakui Kristus sebagai Raja, kemenyan menyatakan Dia sebagai Allah yang layak disembah dan mur menubuatkan penderitaan-Nya sebagai Juruselamat. Dengan kata lain, pelayanan mereka adalah pengakuan iman yang diwujudkan secara konkret.
Namun pelayanan orang Majus tidak berhenti pada pemberian. Ayat 12 mencatat bahwa mereka taat pada suara Allah dan memilih “jalan lain.” Inilah pelayanan dalam bentuk yang lebih dalam: ketaatan yang berani mengambil risiko. Mereka tidak kembali kepada Herodes, meskipun itu berarti menempuh jalan yang tidak biasa dan mungkin lebih sulit. Penyembahan telah membarui arah hidup mereka.
Secara teologis, “pulang melalui jalan lain” melambangkan hidup yang diubahkan oleh perjumpaan dengan Kristus. Penyembahan yang benar selalu menghasilkan perubahan orientasi: cara berpikir, cara melangkah dan cara melayani tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Pelayanan yang lahir dari penyembahan tidak hanya tampak dalam aktivitas gerejawi, tetapi juga dalam: ketaatan pada kehendak Tuhan, keberanian mengambil keputusan yang benar meski tidak populer, kesediaan meninggalkan jalan lama yang bertentangan dengan nilai Kerajaan Allah. John Stott dengan tajam menegaskan: “Pelayanan Kristen bukan usaha manusia untuk mencapai Allah, melainkan respons syukur atas kasih Allah yang lebih dahulu menjumpai kita.”
Dengan demikian, orang Majus mengajarkan kepada kita bahwa pelayanan sejati mencakup memberi yang terbaik dan hidup dalam ketaatan. Penyembahan tidak berakhir di hadapan Anak itu, tetapi berlanjut dalam perjalanan pulang dalam hidup yang diarahkan ulang oleh Allah.
Di awal tahun pelayanan yang baru, firman ini mengajak kita bertanya: Apakah penyembahan kita sungguh mengubah cara kita melayani dan cara kita melangkah? Jika penyembahan kita benar, maka pelayanan kita akan nyata bukan hanya di altar, tetapi juga di jalan hidup yang kita tempuh setiap hari.
PENUTUP
Saudara-saudari yang terkasih,Natal mengingatkan kita bahwa Yesus tidak datang pertama-tama untuk menerima pelayanan kita, tetapi untuk menerima penyembahan kita. Jika penyembahan kita benar: pelayanan akan rendah hati, pelayanan akan setia, pelayanan akan penuh sukacita dan pelayanan akan memuliakan Kristus.
Memasuki tahun pelayanan yang baru, marilah kita kembali ke sumbernya: menyembah Kristus dengan hati yang tunduk, agar pelayanan kita sungguh menjadi berkat bagi jemaat dan dunia. Selamat Natal. Kiranya dari penyembahan yang benar, lahirlah pelayanan yang benar. Amin.
GMIT Klasis Kupang Barat bagi kemuliaan Tuhan.f
Editor: Pdt. yft hb




