(Refleksi Ibadah Minggu 9 November 2025 di Turki)
Bacaan: Wahyu 2
Oleh: Pdt. Doddy S. Octavianus, S.Th (KMK GMIT Klasis Kupang Barat)
Kita sampai ada, mendengar cerita secara langsung pada tempatnya. Ini sebuah hal yang luar biasa, sebuah anugerah, sebuah sukacita yang tidak semua orang dapat. Tentu semua kita merasa bahagia atas sebuah pengalaman yang luar biasa. Namun, dari hari pertama ketika kita ada di sejarah gereja yang kita kunjungi lalu kita berfoto, sadarkah kita bahwa kita berdiri di puing-puing? Itu satu peringatan bagi kita yang perlu kita refleksikan bahwa yang disebut jemaat mula-mula atau persekutuan yang kita tahu bukan gedung tapi orangnya itu sudah hilang/tidak ada lagi. Yang ada hanyalah kita berdiri di atas puing-puing reruntuhan dan tiang-tiang yang masih tersisa.
Pernahkah di sudut lain kita berpikir/merenungkan gereja bisa hilang, bisa bubar bahkan bisa mati. Kita dari tempat di mana surat itu masih dibacakan, tapi ketika membaca surat itu di tempat yang sebenarnya ditujukan,, tempat itu sudah tidak ada lagi. Kita semua diajak untuk berefleksi bahwa kekristenan, secara khusus gereja kita GMIT atau gereja-gereja yang lain, tentu pasti akan berakhir. Demikian juga, tidak ada yang abadi, suatu saat kekristenan (GMIT) juga bisa mati atau hilang. Saya membayangkan nanti kalau itu terjadi, nanti akan ada tour dari klasis ke klasis. Misalnya ke Klasis Kupang Barat, pasti ada reruntuhan kantor Klasis Kupang Barat dan orang mengatakan: Dulu ada satu pendeta yang bernama Doddy Octavianus pernah bertugas di zaman sekian-sekian. Tetapi ini sudah orang lain, sekarang sudah tidak ada lagi. Kini sudah ada bangunan lain dan bangunan lama tinggal puing-puing.
Karena itu saya mengajak kita sekalian untuk berfleksi dan bercermin dari sejarah bahwa gereja kita juga bisa hilang. Kita berefleksi dari masa lalu bahwa kalau kita yang diberi anugrah, diberi tanggungjawab, tidak menjaga secara baik gereja kita maka dia pasti hilang. Kemarin Pak Bilal (tour guide) mengatakan tantangan kita berbeda dan tantangan mereka berbeda. Tantangan kita berbeda karena mungkin modernisasi, sekularisasi atau apalah. Karena itu ketika kita diberi kesempatan di generasi kita inilah kita bertanggungjawab sebagai hamba Tuhan untuk meneruskan kepada generasi yang lain supaya jangan ada lost generation (generasi yang hilang). Karena itu mari kita bersama-sama belajar dari reruntuhan ini untuk pulang ke gereja kita, menguatkan kembali persekutuan kita, memperbaiki kembali apa yang kurang dan apa yang masih ada sebagai sisa dari gereja kita. Ini sebuah peringatan juga bahwa gereja yang masa kini itu, bisa jadi reruntuhan atau tidak reruntuhan itu tergantung dari kita sekalian para hamba Tuhan. Dan mari kita bercermin dari sejarah. Amin.
GMIT Klasis Kupang Barat bagi kemuliaan Tuhan.f
Kontributor: Pdt. Nur Lauwoe
Editor: Pdt. yft hb




